Kanopi hutan, awan dan tutupan tanah menentukan apakah citra satelit membantu pencarian emas di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra. Artikel ini menggabungkan aturan perizinan, biaya resmi, data produksi emas dari USGS dan batas teknis satelit, dengan sumber yang bisa Anda periksa sendiri.
Izin eksplorasi IUP Eksplorasi mineral logam
Pembaca Pemegang izin, penambang kecil, investor
Bahasa Indonesia
Kalau Anda mengetik satelit pendeteksi emas atau mencari aplikasi tambang emas di ponsel, jawaban jujurnya adalah ini: tidak ada satelit yang melihat emas, dan tidak ada aplikasi yang bisa menunjukkan bijih di bawah tanah. Yang ada adalah citra yang mengukur cahaya pantulan permukaan, dan dari situ pola ubahan batuan, kekar dan sesar bisa dibaca sebagai petunjuk. Di Indonesia petunjuk itu harus melewati kanopi hutan dan awan. Artikel ini menjelaskan di mana ia bekerja dan di mana tidak.
Coba: kalkulator iuran tetap dan royalti emas โ
“Pemegang IUP Eksplorasi mineral logam mendapat WIUP paling luas 100.000 hektare.”
UU 3/2020 sudah diubah oleh UU 11/2020 dan UU 6/2023, dan UU 2/2025 disebut sebagai perubahan keempat atas UU 4/2009. Pasal yang saya kutip di bawah berasal dari naskah asli UU 3/2020 yang tersedia di pasal.id, dan situs itu sendiri mencatat bahwa konsolidasinya belum tersedia. Anggap angka-angkanya sebagai titik awal, lalu cek naskah resmi di JDIH Kementerian ESDM atau peraturan.go.id.
Satelit pendeteksi emas: apa yang benar-benar diukur
Satelit pendeteksi emas tidak mengukur emas. Sensor optik merekam cahaya pantulan di puluhan pita panjang gelombang. Mineral lempung, serisit dan oksida besi yang terbentuk oleh cairan hidrotermal punya pola serapan tertentu, dan sebagian sistem emas, terutama yang dangkal dan epitermal, dikelilingi zona ubahan seperti itu. Citra juga memperlihatkan sesar, kelurusan dan bentuk lahan. Jadi yang dihasilkan adalah peta prioritas: bagian mana dari area Anda yang pantas diperiksa lebih dulu di lapangan.
Sentinel-2, menurut dokumentasi Badan Antariksa Eropa, punya 13 pita, resolusi 10 meter untuk pita tampak dan inframerah dekat, dua pita inframerah gelombang pendek (1.612 dan 2.191 nm) pada 20 meter, dan lintasan ulang nominal 5 hari. Pita 2.191 nm jatuh di daerah yang menurut pustaka spektral USGS memuat fitur serapan muskovit dan kaolinit sekitar 2,2 mikrometer. Sensor ASTER, yang pernah jadi andalan pemetaan ubahan, tidak bisa lagi dipakai untuk pita inframerah gelombang pendek: NASA melaporkan detektor SWIR berhenti berfungsi pada 2008 sampai 2009, sehingga hanya arsip lama yang tersisa.
Yang ada adalah aplikasi resmi untuk data perizinan, bukan untuk mendeteksi bijih. Kementerian ESDM mengelola Minerba One Map Indonesia (MOMI), sistem informasi geografis untuk wilayah pertambangan. Menurut penjelasan ESDM tahun 2016, MOMI memuat peta wilayah pertambangan dan izin dari Ditjen Minerba, peta formasi geologi dari Badan Geologi, peta kawasan hutan dari KLHK dan batas administrasi dari BIG, yang bisa ditumpuk dalam satu tampilan. Jangan memakai aplikasi lain yang menjanjikan “deteksi emas”: itu bukan fungsi yang ada.
Cek lokasi emas dengan satelit: urutan yang benar di Indonesia
Banyak orang menanyakan cara cek lokasi emas dengan satelit seolah-olah ada satu tombol. Urutan kerja yang masuk akal di Indonesia ada empat langkah, dan citra satelit baru muncul di langkah ketiga.
- Cek status wilayah. Pastikan areanya tidak tumpang tindih dengan WIUP, IUPK atau kawasan hutan. Datanya ada di sistem ESDM. MODI, sistem data pelaku usaha, ditutup sementara pada 1 September 2025 untuk pindah ke MinerbaOne, menurut Petromindo. Alamat dan hak akses MOMI yang berlaku sekarang perlu Anda pastikan ke Ditjen Minerba.
- Baca peta geologi. Badan Geologi punya layanan GeoMap untuk lapisan peta geologi dalam format raster dan SHP per indeks peta dan per wilayah administrasi, serta GeoRIMA untuk informasi potensi mineral, batubara dan panas bumi, seperti terlihat di portal Badan Geologi.
- Saring dengan citra satelit. Di sinilah satelit pendeteksi emas berguna: ubahan batuan, kelurusan struktur, bentuk lahan, dan jarak ke sungai, permukiman dan hutan.
- Verifikasi di lapangan. Pemetaan lapangan, sampel batuan, parit, dan bila perlu geofisika.
Citra satelit pendeteksi emas memberi kesan bahwa semua lahan terbuka. Peta izin membuktikan sebaliknya. Satu rangkaian pemeriksaan yang pendek di MOMI atau MinerbaOne sebelum mengeluarkan uang untuk analisis akan menghemat lebih banyak daripada satu analisis yang cermat di atas lahan yang sudah ada pemegangnya.
Hasil satelit pendeteksi emas pada langkah ketiga biasanya berupa peta prospektivitas dengan zona yang diurutkan, bukan satu titik. Setiap zona dilengkapi alasan: ada ubahan lempung di bukaan lahan, kelurusan struktur yang memotong batuan vulkanik, atau teras sungai yang cocok untuk pengambilan sampel aluvial. Untuk orang yang ingin cek lokasi emas dengan satelit sebelum membeli lahan atau mengajukan izin, hasil seperti itu jauh lebih berguna daripada satu citra berwarna. Ia memberi daftar pekerjaan lapangan yang bisa dianggarkan.
Izin tambang emas dan satelit pendeteksi emas: IUP, IUPK, IPR dan luas wilayahnya
Menurut Pasal 35 UU 3/2020, usaha pertambangan dilaksanakan berdasarkan perizinan berusaha dari Pemerintah Pusat, dengan bentuk izin yang mencakup IUP, IUPK, IPR dan SIPB, serta izin pengangkutan dan penjualan dan IUJP. Ayat lain memungkinkan pelimpahan kewenangan kepada pemerintah provinsi. Untuk emas, yang tergolong mineral logam, jalur yang paling sering dibicarakan ada tiga: IUP untuk badan usaha, IUPK dan IPR untuk penambangan rakyat.
Pasal 42 menetapkan bahwa IUP Eksplorasi pertambangan mineral logam diberikan selama 8 tahun, dan Pasal 52 membatasi wilayah IUP Eksplorasi mineral logam paling luas 100.000 hektare. Pasal 83 memberi angka yang sama untuk IUPK: eksplorasi mineral logam paling luas 100.000 hektare dan paling lama 8 tahun, lalu operasi produksi paling lama 20 tahun, dengan jaminan perpanjangan dua kali sepuluh tahun bila syaratnya dipenuhi. Teks asli ini diubah beberapa kali, jadi angka itu perlu dicek terhadap versi yang berlaku.
| Izin | Untuk siapa | Jangka waktu | Luas |
|---|---|---|---|
| IUP Eksplorasi, mineral logam | Badan usaha; sejak 2025 juga koperasi dan UKM lewat jalur prioritas (PP 39/2025) | 8 tahun | Paling luas 100.000 ha |
| IUPK Eksplorasi, mineral logam | Pemegang IUPK | 8 tahun; operasi produksi paling lama 20 tahun | Paling luas 100.000 ha |
| IPR (izin pertambangan rakyat) | Perseorangan atau koperasi, di Wilayah Pertambangan Rakyat | Paling lama 10 tahun, dua kali perpanjangan masing-masing 5 tahun | 5 ha perseorangan; 10 ha koperasi |
Izin yang menganggur bisa dicabut
USGS mencatat dalam Minerals Yearbook edisi 2022 bahwa pada 2022 Pemerintah Indonesia mencabut lebih dari 2.000 izin pertambangan mineral dan batubara milik perusahaan yang tidak menyampaikan rencana kerja tepat waktu, meski izinnya sudah diberikan bertahun-tahun. Presiden menyebut pencabutan itu bagian dari perbaikan tata kelola izin tambang dan kehutanan. Bagi pemegang WIUP emas, pesannya sederhana: memegang wilayah tidak cukup, rencana kerja harus berjalan. Analisis satelit di awal membantu menyusun rencana kerja yang konkret, dengan target dan urutan kegiatan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Berapa piksel ada di dalam satu izin?
Angka luas itu penting untuk memahami apa yang bisa dilihat satelit. Seratus ribu hektare sama dengan 1.000 kilometer persegi, atau bujur sangkar sekitar 31,6 kilometer per sisi. Itu muat dalam satu lintasan Sentinel-2, yang menurut halaman Badan Antariksa Eropa punya lebar sapuan 290 kilometer. Satu piksel 20 meter pada pita SWIR seluas 0,04 hektare, sehingga satu WIUP seluas 100.000 hektare berisi sekitar 2,5 juta piksel SWIR. Satu IPR seluas 5 hektare hanya berisi sekitar 125 piksel SWIR atau 500 piksel pada 10 meter. Hitungan ini milik saya, bukan angka resmi, tetapi menjelaskan perbedaan praktisnya: untuk WIUP yang luas, satelit pendeteksi emas bisa menyaring wilayah dengan cepat, sedangkan untuk IPR kecil satelit hanya memberi konteks sekitarnya dan pengukuran lapangan yang menentukan.
Wilayah Pertambangan Rakyat dan kedalaman 100 meter
Pasal 22 menyebut kriteria Wilayah Pertambangan Rakyat: cadangan primer mineral logam dengan kedalaman maksimal 100 meter, dan juga endapan sekunder di antara tepi sungai, teras sungai, dataran banjir atau sungai purba. Dengan kata lain, hukum membayangkan penambangan rakyat pada emas yang dangkal. Menurut saya, untuk citra satelit ini berarti area penambangan rakyat adalah yang paling mudah dibaca secara visual: lubang, kolam dan bukaan lahan terlihat jelas, meski keberadaan emasnya tetap harus dicek di tanah.
Siapa yang bisa mendapat WIUP
Perubahan UU Minerba pada 2025 membuka WIUP mineral logam melalui lelang atau melalui pemberian prioritas kepada kategori pemohon tertentu. Menurut pemberitaan Mongabay Indonesia, PP 39/2025 ditandatangani pada 11 September 2025 sebagai perubahan kedua atas PP 96/2021, dan peraturan menteri turunannya masih disusun saat berita itu terbit. Karena aturan pelaksananya masih bergerak, jangan menganggap satu skema sebagai pasti. Konfirmasikan ke Ditjen Minerba bagaimana WIUP yang Anda incar akan diberikan.
Pilihan jalur izin juga menentukan bagaimana satelit dipakai. Pemegang WIUP luas memakai citra untuk membagi wilayah menjadi zona prioritas dan menekan biaya eksplorasi awal. Pemegang IPR atau koperasi di WPR memakai citra untuk hal yang lebih kecil: memilih bagian sungai, teras atau bukaan lahan mana yang layak diperiksa. Di kedua kasus, citra tidak menggantikan sampel. Ia menentukan di mana sampel pertama diambil.
Biaya resmi: iuran tetap dan royalti emas
Dalam anggaran satelit pendeteksi emas dan eksplorasi, dua angka biaya yang paling sering ditanyakan pemegang izin adalah iuran tetap per hektare dan royalti. Menurut lampiran PP 26/2022 yang dimuat di api-law.crpg.info, iuran tetap IUP dan IUPK Eksplorasi mineral logam dan batubara adalah Rp30.000 per hektare per tahun. Untuk royalti emas primer, tarif PP 26/2022 naik dari 3,75% pada harga sampai US$1.300 per ons hingga 10% di atas US$2.000.
Aturan itu sudah diganti. Fortune Indonesia melaporkan bahwa PP 19/2025 ditandatangani pada 11 April 2025 dan berlaku pada 26 April 2025. CNBC Indonesia memuat tarif emas primer menurut Harga Mineral Acuan (HMA): 7% di bawah US$1.800 per ons, 10% pada US$1.800 sampai di bawah US$2.000, 11% pada US$2.000 sampai di bawah US$2.200, 12% pada US$2.200 sampai di bawah US$2.500, 14% pada US$2.500 sampai di bawah US$2.700, 15% pada US$2.700 sampai di bawah US$3.000, dan 16% pada US$3.000 ke atas. Kedua berita tidak menyebut iuran tetap, jadi nilai Rp30.000 per hektare perlu dicek ulang di lampiran PP 19/2025.
Menurut Fortune Indonesia, HMA untuk emas primer merujuk pada harga LBMA dan Gold PM Fix pada hari penjualan. Artinya tarif royalti ditentukan oleh harga hari itu, bukan oleh harga rata-rata tahunan yang Anda pakai di model. Kalau tambang menjual tiap bulan, tarifnya bisa berpindah pita sepanjang tahun, dan kalkulator di bawah memperlihatkan seberapa besar selisihnya satu pita harga.
Iuran tetap eksplorasi dan royalti emas per tahun
Asumsi: iuran tetap Rp30.000 per hektare per tahun (PP 26/2022, perlu dicek ulang di PP 19/2025) dan tarif royalti emas primer menurut HMA dari PP 19/2025 (CNBC Indonesia, Fortune Indonesia) dan PP 26/2022. Royalti dihitung sebagai persentase dari harga HMA dikali produksi, sebagai perkiraan kasar. Tidak termasuk pajak lain, jaminan reklamasi atau biaya lapangan. Konfirmasikan ke Kementerian ESDM.
Contoh dengan angka bawaan kalkulator: WIUP 5.000 hektare membayar iuran tetap Rp150 juta per tahun, atau Rp1,2 miliar selama delapan tahun eksplorasi. Setelah produksi, 50.000 ons per tahun pada HMA US$3.000 berarti nilai sekitar US$150 juta. Royalti 16% dari nilai itu sekitar US$24 juta per tahun, sedangkan tarif lama 10% memberi sekitar US$15 juta. Selisih sekitar US$9 juta per tahun itu jauh lebih besar dari seluruh iuran tetap eksplorasi, dan itu alasan model kelayakan Anda harus memakai tarif yang berlaku.
Pada HMA US$3.000 ke atas, royalti emas primer 16% menurut berita tentang PP 19/2025. Itu 1,6 kali tarif tertinggi aturan lama. Bila model kelayakan Anda masih memakai 10%, margin dalam model lebih tebal daripada kenyataan. Bagian ini informasi umum, bukan nasihat investasi atau pajak.
Emas di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi: yang tercatat USGS
Menurut tabel produksi di USGS Minerals Yearbook untuk Indonesia (edisi 2022), emas tambang Indonesia turun dari 132,7 ton pada 2018 menjadi 65,9 ton pada 2020, lalu naik lagi menjadi 105,5 ton pada 2022. Laporan yang sama mencatat bahwa produksi emas tambang naik 33% pada 2022. Grasberg di Papua menyumbang 55,9 ton pada 2022, sekitar 53% dari total itu, tetapi tambang itu tidak dibahas di sini. Daftar tambang besar lainnya tersebar di tiga pulau yang jadi fokus artikel ini.
Tabel struktur industri di laporan yang sama menyebut tambang emas utama menurut lokasi: Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara (PT Agincourt Resources); Way Linggo di Lampung; Toka Tindung di Sulawesi Utara (PT Archi Indonesia); Bakan dan North Lanut, juga di Sulawesi Utara (PT J Resources Asia Pasifik); Buduk di Kalimantan Barat; dan Mt Muro di Kalimantan Tengah (Straits Resources). Kapasitas tahunan yang dicatat USGS berkisar 1 ton untuk tambang kecil sampai 15 ton untuk Martabe. PT Archi Indonesia menyatakan di situsnya bahwa produksi emas Toka Tindung dimulai pada 2011, naik dari 134 ribu ons pada 2012 menjadi 207 ribu ons pada 2020, dengan sekitar 1,9 juta ons secara kumulatif sampai 2020.
Tipe endapan tiap tambang (epitermal, porfiri, sulfidasi tinggi atau rendah) tidak saya sebut di sini. Sumber yang bisa saya buka hari ini tidak menyatakannya secara eksplisit, dan menebak klasifikasi geologi akan menyesatkan. Anda bisa menemukannya di laporan teknis perusahaan dan di peta Badan Geologi.
Struktur besar yang terlihat dari satelit
Tektonik Indonesia menyediakan kerangka struktural yang jelas bagi satelit pendeteksi emas. Menurut ringkasan Wikipedia tentang geologi Indonesia, subduksi Lempeng Hindia di bawah Lempeng Sunda membentuk busur vulkanik Sumatra, Jawa dan Nusa Tenggara. Sesar Besar Sumatra (Semangko) adalah sesar geser menganan sepanjang sekitar 1.900 kilometer, dan Sesar Palu-Koro melintasi Sulawesi tengah hingga ke Selat Makassar. Sesar sebesar itu terlihat sebagai kelurusan pada citra dan model elevasi digital. Kelurusan itu bukan petunjuk emas, tetapi kalau Anda sudah mengetahui bahwa mineralisasi di area itu dikontrol struktur, ia menyempitkan di mana harus mencari.
Hutan, awan dan tutupan tanah: batas satelit pendeteksi emas di tropis
Di Indonesia, sensor optik satelit pendeteksi emas pertama-tama bertemu pohon. Penilaian Sumber Daya Hutan Global FAO 2020 mencatat luas hutan Indonesia 92,1 juta hektare pada 2020, turun dari 118,5 juta hektare pada 1990, dan menempatkan Indonesia di urutan kedelapan dunia. Di bawah kanopi seperti itu, pita inframerah gelombang pendek membaca daun dan bayangan, bukan batuan. Penelitian mineral berbasis citra optik paling berhasil di bukaan lahan, tebing sungai, jalan tambang, dan area bekas penambangan rakyat.
Citra optik juga tidak bisa menembus awan. Radar tidak terhalang awan: menurut Badan Antariksa Eropa, instrumen radar Sentinel-1 memberi citra permukaan Bumi setiap saat, siang malam dan dalam segala cuaca, dan menurut JAXA PALSAR-2 pada ALOS-2 bisa mengamati siang dan malam dalam segala cuaca, dengan pemantauan hutan hujan tropis global sebagai salah satu kebutuhan yang dijawab ALOS-2. Radar tidak mengukur mineral, tetapi bentuk lahan dan kekasaran permukaan, jadi ia dipakai untuk struktur dan geomorfologi, bukan ubahan.
| Target pencarian di Indonesia | Sinyal dari satelit | Batas yang jujur |
|---|---|---|
| Ubahan lempung dan serisit di bukaan lahan | Pita SWIR Sentinel-2 (B11, B12) | Hanya di batuan atau tanah yang terbuka; kanopi dan awan menghapus sinyal |
| Sesar dan kelurusan (Sumatra, Sulawesi) | Radar, model elevasi, citra optik | Menunjukkan struktur, bukan kadar |
| Emas aluvial dan teras sungai | Bentuk lahan sungai, bukaan lahan | Tidak ada tanda spektral langsung; hanya bantu memilih tempat ambil sampel |
| Emas di bawah tanah penutup yang tebal | Hampir tidak ada | Butuh geokimia tanah dan geofisika |
| Area penambangan rakyat aktif | Bukaan lahan, kolam, perubahan tutupan | Terlihat jelas, tetapi tidak menunjukkan kadar emasnya |
Karena batas-batas itu, hasil terbaik biasanya datang dari kombinasi sumber. Citra optik memberi ubahan di bukaan lahan, radar dan model elevasi memberi struktur di bawah kanopi, peta geologi Badan Geologi memberi batuan induk, dan peta izin memberi batas hukum. Satu sumber saja jarang cukup. Pekerjaan satelit pendeteksi emas yang baik menggabungkan keempatnya, lalu menyerahkan daftar zona kepada tim lapangan beserta alasan memilih tiap zona.
Hasil analisis satelit adalah daftar zona yang layak diperiksa, bukan estimasi sumber daya atau cadangan. Bila sebuah laporan menyebut tonase emas dari citra saja, tanpa kerja lapangan, ia melebih-lebihkan apa yang bisa diberikan metode ini. Satelit pendeteksi emas yang jujur selalu diakhiri dengan rencana verifikasi lapangan.
Cara Farmonaut bekerja: dari poligon ke laporan
Farmonaut adalah perusahaan analitik data satelit yang menerapkan pengamatan Bumi dan kecerdasan buatan pada eksplorasi mineral. Kami bukan agen perizinan, penasihat hukum, pialang atau penasihat investasi, dan kami tidak mengajukan izin atas nama siapa pun. Kami mengerjakan bagian geologinya: Anda memberi kami area (koordinat, KML, KMZ atau poligon), negara dan mineral yang dicari, lalu kami mengirim analisis dalam 5 sampai 20 hari kerja, tergantung luas dan kerumitannya. Laporan deteksi mineral berbasis satelit berisi zona berpotensi tinggi, peta prospektivitas, interpretasi geologi (sesar, ubahan, batuan induk) dan berkas SIG bergeoreferensi. Premium+ menambahkan TargetMaxโข untuk arahan pengeboran dan model bawah permukaan 3D.
Menurut informasi kami, pendekatan satelit pendeteksi emas ini memangkas waktu eksplorasi awal dari bulan menjadi hari dan bisa menurunkan biaya tahap itu sampai 80 sampai 85%, tanpa mengganggu lahan. Kami sudah memindai lebih dari 100.000 hektare, lebih dari 20 jenis mineral, di lebih dari 25 negara. Contoh pemetaan prospektivitas mineral 3D berbasis satelit memperlihatkan bentuk hasil yang khas.
Untuk pemegang IPR atau penambang kecil, kebutuhan datanya lebih sederhana. Kirim koordinat area dan jelaskan apa yang sudah Anda ketahui: apakah ada bukaan lama, aliran sungai yang pernah didulang, atau singkapan. Dari situ kami menyiapkan peta yang menunjukkan bagian area yang paling pantas dicek lebih dulu dengan sampel. Untuk pemegang WIUP luas, kami mengurutkan zona di seluruh wilayah agar anggaran lapangan tidak tersebar rata.
Punya area untuk dicek? Lihat dulu apa yang ada di bawahnya.
Untuk satelit pendeteksi emas di area Anda, kirim poligon yang sama dengan yang akan Anda masukkan dalam pengajuan WIUP. Kami buatkan pembacaan prospektivitas dari satelit, dengan zona yang diurutkan, geologi dan langkah berikutnya, sebelum Anda menanggung iuran dan rencana kerja. Penawaran gratis, analisisnya berbayar.
1) Pastikan naskah UU dan PP yang berlaku, termasuk PP 39/2025 dan PP 19/2025. 2) Periksa area di MOMI atau MinerbaOne. 3) Baca peta geologi Badan Geologi. 4) Saring dengan satelit pendeteksi emas, pilih sensor yang sesuai tutupan hutan dan awan. 5) Hitung royalti pada beberapa harga HMA, bukan satu harga. Informasi umum, bukan nasihat hukum atau investasi.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah ada satelit pendeteksi emas yang bisa menunjukkan emas di bawah tanah?
Tidak. Satelit mengukur cahaya pantulan permukaan dan struktur. Dari situ bisa dibaca zona ubahan batuan dan kelurusan yang mungkin berasosiasi dengan emas. Keberadaan dan kadar emas hanya bisa dipastikan lewat sampel dan pengeboran.
Aplikasi tambang emas apa yang resmi untuk cek wilayah izin?
Kementerian ESDM mengelola MOMI untuk data spasial wilayah pertambangan, dan data pelaku usaha dipindahkan dari MODI ke MinerbaOne pada September 2025. Cek alamat dan hak akses yang berlaku ke Ditjen Minerba. Aplikasi lain yang menjanjikan deteksi emas dari ponsel bukan sumber resmi.
Bagaimana cek lokasi emas dengan satelit secara praktis?
Urutannya: cek status wilayah di sistem ESDM, baca peta geologi Badan Geologi, saring dengan citra satelit untuk ubahan dan struktur, lalu verifikasi di lapangan. Citra satelit hanya satu langkah, bukan keputusan akhir.
Berapa royalti emas di Indonesia?
Menurut berita tentang PP 19/2025, tarif emas primer naik bertahap menurut HMA, dari 7% di bawah US$1.800 per ons sampai 16% di US$3.000 ke atas. Tarif lama PP 26/2022 berhenti di 10%. Cek lampiran PP 19/2025 untuk naskah resminya.
Berapa luas IPR untuk penambang rakyat?
Menurut naskah asli UU 3/2020 Pasal 68, satu IPR paling luas 5 hektare untuk perseorangan dan 10 hektare untuk koperasi, berlaku paling lama 10 tahun dan dapat diperpanjang dua kali masing-masing 5 tahun. Cek naskah yang berlaku karena UU ini sudah diubah.
Apakah satelit pendeteksi emas bisa menembus hutan Kalimantan atau Sumatra?
Citra optik tidak. Radar tidak terhalang awan dan dipakai untuk memantau hutan tropis, tetapi ia membaca bentuk lahan, bukan mineral. Karena itu hasil terbaik berasal dari bukaan lahan, tebing sungai dan bekas tambang.
Apakah layanan satelit pendeteksi emas Farmonaut mengurus izin WIUP atau IUP?
Tidak. Kami bukan agen perizinan. Izin diajukan melalui sistem perizinan pemerintah. Kami menganalisis area yang ingin Anda ajukan atau yang sudah Anda pegang, supaya Anda bisa memutuskan di mana harus mengajukan dan di mana eksplorasi dimulai.
Ditinjau pada Oktober 2026 berdasarkan UU 3/2020 (naskah asli di pasal.id), PP 26/2022, pemberitaan PP 19/2025 dan PP 39/2025, USGS Minerals Yearbook Indonesia 2022, FAO Global Forest Resources Assessment 2020, dokumentasi Sentinel-1, Sentinel-2, ASTER dan ALOS-2, serta portal Badan Geologi dan Kementerian ESDM. Peraturan, tarif dan sistem perizinan berubah: konfirmasikan dengan Kementerian ESDM sebelum mengajukan atau membayar apa pun. Tidak ada bagian di sini yang merupakan nasihat hukum, pajak atau investasi. Farmonaut bukan agen perizinan, pialang atau pasar.

